Demam Cafe Racer, Filosofi dan Tips-Triknya

Salah satu model motor yang tengah digemari di dunia modif motor tanah air adalah cafe racer. Sejak belasan tahun yang lalu aliran ini sudah dikenal orang Indonesia.

Demam Cafe Racer, Filosofi dan Tips-Triknya

Adalah para bikers dan komunitas anak motor bertebaran seantero negeri memiliki andil dalam maraknya fenomena modifikasi cafe racer.

Rumah modifikasi yang mengubah wajah motor dari tampilan standar pabrikan menuju retro balapan hadir dalam kelasnya masing-masing.

Dari mulai bengkel kelas rumahan hingga bengkel profesional menawarkan racikan ala ‘distinguished gentlemen ride’ mereka.

Filosofi cafe racer memang berkembang di daratan Eropa awalnya. Dimana para bikers Eropa tersulut romantika motor retro rasa kekinian.

Sebut saja Royal Einfield, Triumph dan Ducati menyokong versi pabrikan dari motor masa kini rasa kekunoan.

Singkat sejarahnya, cafe racer mendapatkan nama dari para bikers Inggris dengan dukungan cafe-cafe nan tersebar di tapak jalan Cross Country pasca Perang Dunia II. Sebut saja merek BSA, Norton, Venom dan Triumph besutan lawas direstorasi habis-habisan dengan berkembangnya industri rumahan, alias home made spare part.

Lalu bagaimana di Indonesia? Modifikator biasanya ada yang mengadopsi filosofi dan budaya tersebut namun dengan tambahan sedikit rasa lokal.

Tulisan ini tidak akan merinci selera modifikasi tertentu. Kita bisa melihat ada mazhab Srambler, Jap Style, Brat Style, Bobber dan sebagainya di dunia modifikasi tanah air.

Tulisan lebih menitikberatkan pada apa saja pertimbangan sebelum memodifikasi motor kesayangan agar tampak ‘distinguished’.

Kita bisa mengacu pada kutipan musisi terkenal Kurt Cobain ‘They laugh at me because I am different, I laugh at them because they look all the same”.

Jadi maknanya, cafe racer memiliki dasar pemikiran motor saya harus memiliki sidik jari. Kita paham bahwa tidak ada satu pun dari miliaran manusia yang memiliki sidik jari serupa.

Semakin beda motornya, semaksimal mungkin memiliki ‘wow factor’ dalam tongkrongannya. Di situlah inti filosofi ‘pebalap cafe’ ini.

Secara umum, jika ingin memodifikasi motor di Indonesia pilihan bahan motor untuk dimodif adalah merek Jepang seperti Honda (Tiger, CB lawas dan GL), Kawasaki Binter, Yamaha Scorpio dan Thunder (125-250).

Tapi terlepas dari pemikiran generik dan budaya sejuta umat, sah-sah saja menggunakan merek India (Pulsar) atau China (Jialing 250 cc) atau merek yang sudah discontinue lainnya namun dengan kemampuan sparepart bisa dikanibal seperti Minerva atau mocin lainnya.

Saya sendiri misalnya, yang sehari-hari menggunakan motor Minerva X-Road 150 cc tahun 2012 ini memilih melakukan face off motor street fighter X-roadnya menjadi ala cafe racer.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s